“Siap, Suster.”

Tanggal 2 Januari 1985 tugas di Samadi Klender mulai kutapaki. Dari perkenalan dengan romo, suster, serta karyawan, mata serta telingaku pun mulai berkenalan dengan keluhan demi keluhan, “Tak ada pemasukan. Pelanggan yang mau retret, rekoleksi, atau bimbingan lain sangat minim.”

Romo sekretaris uskup pun bertanya, “Tembok-temboknya masih jijik?”

“Wah, Romo nih menghina.”

“Nyatanya, waktu aku istirahat di situ, kulihat bekas aliran air hujan sudah jadi lumut hijau menjijikkan di tembok-tembok kamar.”

“Hiiii, jorok sekali, ya, Romo?”

Tanggal 12 pengurus lama menyerahkan tugas kepadaku, juga uang tunai sebanyak satu juta dua ratus ribu, lebihnya kira-kira lima ribu rupiah. Pengurus lama memberi tahu, situasi memang sedang minus. Dengan bengong aku terima semuanya. Kepalaku langsung pusing tujuh keliling.

Akan cukup sampai mana uang itu nanti? tanyaku dalam hati. Untuk gaji sekitar 25 karyawan saja? Untuk kelola rumah? Untuk roda kehidupan para suster, pastor, dan asrama karyawan putra dan putri? Aduh, aku juga tak tahu harus berunding dengan siapa.

Aku kasihan kepada para pengurus lama. Mereka lama bergulat dengan kondisi yang serba- tidak bersahabat. Pasti ada banyak jalan. Aku harus kerja keras bersama banyak pihak. Aku mesti menemukan potensi di ranah tugasku ini. Secara fisik kuamati lokasi besar ini sanggup menampung lebih dari 100 orang. Bangunannya bagus, hanya kondisinya saja yang perlu dielus-elus.

Pukul tiga pagi, aku terbangun dan keluar menuju kebun kecil susteran. Di sudut kanan ada gua. Tentu semula gua Maria, tetapi gua itu kosong dengan tanaman sirih Belanda tak terawat. Aku berdiri termangu, memandang kegelapan kebun.

Ketika mataku nanar mencari sinar, hatiku tertancap pada seorang pribadi: Santo Yosef, yang tiba-tiba menguasai keberadaanku. Santo Yosef penolong pekerja, bukan penolong orang yang malas berusaha, enggan bekerja. Setiap kali tersandung masalah pekerjaan atau mau menempuh perjalanan jauh, aku lari kepada St. Yosef. 

Sambil berdiri aku berdoa dengan kegentaran, tetapi juga dengan keyakinan, “Santo Yosef, engkau tahu kebingunganku, batinku yang sudah menuju pinggir harapan. Aku tak mau lagi merumuskan permohonan. Sudilah datang saja, memberi tahu apa yang mesti kami lakukan untuk menyelamatkan Wisma Samadi ini.” 

Ketika itulah muncul gagasan, yang kuyakini amanat Santo Yosef: Percantik dinding-dinding. Ciptakan taman di halaman tengah depan.

Esoknya, usai mengikuti Misa harian dan sarapan bersama komunitas, buru-buru aku berdiri di gerbang masuk depan. Kucegat setiap karyawan untuk kuberi pesan, “Mulai sekarang tiap pagi kita kumpul dulu di kapel, ya. Berdoa dulu, lalu merundingkan pekerjaan kita hari itu.” 

Kulirik bibir para karyawan yang cungar-cungir. Maklum, biasanya mereka datang langsung ke pos masing-masing, tanpa tanda tangan presensi, tanpa doa, tanpa “duduk dan berunding”.

Di kapel, mereka diam membisu, tanpa tahu mesti berbuat apa. Aku mau mengajak mereka bersatu membangun tempat “suci” ini. Pada awal pertemuan, kusampaikan usulan berbau instruksi kepada grup bangunan, “Bapak-bapak, kalau kita mulai mengecat tembok-tembok, bagaimana?”

“Katanya nggak ada uang, kok mau ngecat?”

“Oh, iya, ya? Gimana baiknya, Pak?”

“Kita beli cat murahan dulu, Suster. Yang penting tembok-tembok kita bedaki, biar kelihatan baru. Kelak kalau ada rezeki, tembok kita kerok dan cat lagi dengan cat yang bagus,” usul Pak Bani.

“Setuju. Hari ini mulai, ya, mumpung wismanya kosong.”

Dari bincang-bincang itu, muncul pula rencana: akan ada sekretariat. Pos ini bisa jadi andalan banyak pengaturan: saluran informasi, pencatat pesanan tempat, pencatatan segala butir masalah yang perlu diabadikan, dan masih ada lagi urusan yang bisa dipercayakan padanya.

Setiap pagi karyawan yang datang wajib tanda tangan presensi yang juga diurus sekretariat. Lalu, semua kumpul dulu di kapel, mensyukuri kasih-Nya, mohon berkat-Nya, dilanjutkan dengan info tamu retretan, perencanaan tugas, dan lain-lain.

Ketika aku jalan santai ke pelataran tengah, yang menurut keyakinanku, ditunjuk St. Yosef agar jadi taman baru, aku pun segera mengajak karyawan yang lulusan STM jurusan Listrik untuk membuat taman sederhana. Karyawan tersebut menyedot air dari sumber di tanah sebelah. Ia bikin kolam kecil, dilengkapi air mancur mungil.

Di pinggirnya kutaruh patung itik putih jelita. Tanaman hijau menghiasi sisi-sisi kolam. Di pelataran yang lumayan luas itu tanaman-tanaman kembang aneka warna tumbuh manis. Keberadaannya menarik perhatian sesama umat yang biasa mengikuti Misa Kudus di Samadi.

“Sekarang asri.” Kudengar seruan seorang ibu.

Keindahan fisik itu juga memengaruhi minat sekolah atau kelompok untuk mengadakan acara. Pesanan mulai ramai. Para pelanggan mau agar kelompok atau sekolahnya mendapat materi serta metode yang berkualitas tinggi atau sesuai selera. Sebagai orang baru, aku sadar kami ini bagaikan orang jualan, berbisnis. Maka, aku juga mau berpromosi. Tentu saja promosi untuk Kerajaan Surga.

Suatu pagi seorang guru SD St. Bellarminus datang, bertanya siapa yang akan mendampingi retret murid-murid. Kujawab singkat, aku yang akan melayani. Anehnya, selang seminggu, sepuluh hari, dua minggu kemudian masih saja ada utusan dari sekolah itu yang menanyakan hal yang sama, siapa pendamping retret bagi para siswa mereka. Kutegaskan, aku akan mendampingi, sedangkan romo siap melayani Sakramen Tobat dan pimpin Ekaristi.

Akhirnya, 165 anak kelas lima SD datang dan memasuki ruang pertemuan. Ketika kami semua mau keluar ruangan, beberapa guru mendatangi aku dan bertanya, “Suster kok sendirian? Kami biasa minta tujuh sampai delapan pendamping untuk menguasai sekian banyak siswa yang ulahnya ... minta ampun.”

“Oh, pantesan, sampai empat kali sekolah mengirim utusan untuk tanya pendampingnya siapa. Ya sudah, yang penting pulang dari sini anak-anak berubah jadi lebih baik,” tanggapku.

Rupanya kecocokan metode pendampingan retret juga mengundang banyak pelanggan. Puji Tuhan. Seiring waktu, St. Yosef masih menolong Samadi. Tembok-tembok sudah jadi cantik dengan cat yang berkualitas. Taman tetap ada walau sederhana, tetapi asri. Klop.

St. Yosef sungguh mengatur semuanya. Beberapa hari sebelum tanggal gajian karyawan, uang kuhitung: cukup, ada lebihnya, untuk running. Rupanya St. Yosef tetap memperhatikan kami dengan mendorong lebih banyak kelompok agar mengadakan acara di Samadi.  

Soal pendampingan retret, aku juga berguru pada St. Yosef walau dia adalah tukang kayu. Atas bimbingannya, tak henti aku mengingatkan para anggota kelompok agar tidak mengutamakan tangis sebagai “hasil” acara, melainkan perubahan tingkah laku sepulang dari wisma. Masih kuingat jelas, pimpinan SMP Tarakanita 4 Rawamangun berucap, “Habis retret pasti deh, ada banyak orang tua atau surat-surat berdatangan, bertanya, ‘Selama tiga hari anakku diapain di sana? Tingkah lakunya kok berubah banget? Dulu suka melawan orang tua, sama adiknya ribut melulu, sekarang diganggu adik juga tenang-tenang aja, mau mengalah.”

Ketika sebuah kelompok guru usai mengikuti acara tobat, mereka menangis mengharu-biru. Seorang bapak guru angkat bicara, “Suster perlu tahu, air mata kami andai diperiksa di lab, akan ketahuan: air mata ibu-ibu banyak memuat unsur dosa ngerumpi.” 

Spontan ibu-ibu guru berteriak, “Kalau air mata bapak-bapak?”

“Ya, dosa pornolah.” 

Semua tertawa renyah, serenyah hatiku yang sudah ditolong St. Yosef.

 

Ilustrasi: Bambang Shakuntala

">


Udar Rasa

Santo Yosef Penolongku


SILAHKAN BERI KOMENTAR

KOMENTAR TERBARU